Jurnal Radio Sebagai Media Komunikasi Massa
RADIO
SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI MASSA
LELA IRAYANI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BUMI SILAMPARI
LUBUKLINGGAU
Abstrak
Studi komunikasi massa secara umum membahas
dua hal pokok yaitu: Pertama, studi komunikasi massa yang melihat peran
media massa terhadap masyarakat luas beserta institusi- institusinya. Pandangan
ini menggambarkan keterkaitan antara media dengan berbagai institusi lain
seperti institusi politik, ekonomi, pendidikan, agama, dan sebagainya.
Teori-teori yang berkenaan dengan hal ini berupaya menjelaskan posisi atau
kedudukan media massa dalam masyarakat dan terjadinya saling memengaruhi antara
berbagai struktur kemasyarakatan dengan media. Kedua, studi komunikasi massa yang
melihat hubungan antara media dengan audiennya, baik secara kelompok maupun
individual. Teori-teori mengenai hubungan antara media audien terutama
menekankan pada efek-efek individu dan kelompok sebagai hasil interaksi dengan
media.
Salah satunya ditanda’inya era
globalisasi dan informasi adalah adanya kemajuan bidang teknologi informasi.
Dengan teknologi informasi segalanya menjadi mudah. Kalau dulu seseorang yang
ingin menyampaikan pesan ke seseorang
yang berada di tempat yang jauh menggunak an surat secara tertulis dengan
menggunakan jasa layanan POS, namun dengan kemajuan teknologi informasi pesan
dalam sekejap saja dapat sampai ke penerima
pesan. Semisal melalui telepon maupun menggunakan media lainnya, termasuk dalam
hal ini jasa layanan radio. Adanya
radio sebagai media Komunikasi massa tentunya lebih memudahkan sarana
informasi. Di sinilah urgensinya teknologi informasi dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk dapat
digunakan sebagai penyampai pesan-pesan ajaran Islam. Selain radio juga dapat
digunakan sebagai media yang dapat menyapa ke
semua lapisan masyarakat. Radio memiliki jangkauan yang cukup luas,
terlebih bila menggunakan teknologi streaming, dapat menjangkau ke seluruh dunia. Sehingga informasi juga
dapat menyentuh ke semua khalayak umum. Disamping radio, kita juga mengenal internet sebagai
penyambung streaming radio. Bahkan
dengan internet program siaran radio dapat kita akses dengan mudah. Oleh karena
itu media radio sangat praktis dan efisian untuk
suatu sarana media
massa yang bersifat informasi.
Kata
Kunci:Radio,Media,Komunikasi massa
PENDAHULUAN
Radio adalah media suara.
Pendengar sebagai penerima pesanlah yang menentukan pilihan program yang
disiarkan. Mereka biasanya aktif mengikuti siaran. Kalau programnya disenangi,
akan diikuti terus. Sebaliknya, radio akan dimatikan kalau acara yang disajikan
tidak menarik. Sifat pendengar radio heterogen. Berbeda dalam usia, pendidikan,
jenis kelamin, dan status kehidupan. Jadi, kekuatan radio sama sekali belum
menjamin bahwa pesan-pesan yang disampaikan oleh reporter dapat diterima dan
dimengerti oleh khalayak. Karena itu, konsep-konsep pesan dalam penyajian suatu
acara harus diupayakan ringkas dengan membatasi fakta, karena pikiran pendengar
tidak dapat menyimpan informasi yang jumlahnya banyak. Radio merupakan
komunikasi satu arah, sehingga pemahaman pada pendengaran pertama diupayakan
berupa struktur bahasa yang sederhana. Karena
makna suatu pesan disampaikan
melalui suara, reporter harus tahu kapan saat memberi penekanan pada kata-kata,
suku kata, maupun perubahan pola penuturan bahasa yang berhubungan dengan
keraslemahnya suara.
Perkembangan radio dimulai dari penemuan phonograph(gramofon), yang juga bisa
digunakan memainkan rekaman, oleh Edison pada tahun
1877. Pada saat yang sama James Clerk
Maxwell dan Helmholtz Hertz melakukan ekperimen elektromagnetik untuk
mempelajari fenomena yang kemudian dikenal sebagai gelombang radio. Keduanya menemukan bahwa gelombang
radio merambat dalam bentuk bulatan, sama seperti ketika kita menjatuhkan
sesuatu pada air yang tenang. Riak
gelombang yang dihasilkan akibat benda yang jatuh tersebut secara sederhana
dapat menggambarkan bagaimana gelombang radio merambat. Jumlah gelombang radio
diukur dengan satuan Hertz.
Marconi adalah, orang yang kemudian memanfaatkan kedua penemuan diatas untuk mengembangkan sistem komunikasi
melalui gelombang radio pada tahun 1896. Usaha Marcori ketika itu baru berhasil
pada tahap pengiriman gelombang radio secara on and off (nyala dan mati), sehingga baru bisa menyiarkan kode
telegraf. Lee De Frost lalu menemukan vacuum
tube pada tahun 1906. Vacuum tube mampu
menangkap signal radio sekalipun lemah. Pada tahun yang sama Reginald Fessenden
menciptakan ‘penyiaran’ pertama dengan menggunakan telepon sebagai mikrofon.
Siaran radio secara regular di mulai pada tahun 1912 oleh Charles Herrold.
Pada tahun 1960, siaran radio memasuki masa penting dengan
dikembangkannya teknologi siaran menggunakan frekuensi FM. Teknologi FM sebenarnya
telah ditemukan pada tahun 1930-an, namun ketika itu baru
sedikit saja pesawat radio bisa menerima siaran FM. Walaupun daya jangkau lebih rendah, namun dibandingkan AM siaran
FM menghasilkan suara yang lebih jernih
dengan efek suara stereo. Kelebihan
ini pada gilirannya mendorong pemilik stasiun AM untuk beralih bersiaran FM.
Puncak dari kesuksesan siaran FM dapat terlihat dari data tahun 1993 yang
dipublikasikan oleh Straubhaard .[1]
Komunikasi dapat
berlangsung bila terpenuhi tiga unsur, yakni unsur komunikator (announcer),
unsur pesan, dan unsur komunikan (khalayak). Para ahli komunikasi menyadari
bahwa ada satu unsur lain yang juga perlu mendapatkan perhatian, yaitu umpan
balik (feedback). Jika suatu
komunikasi mendapatkan umpan balik positif, maka dapat dikatakan komunikasi itu
berhasil karena sesuai harapan komunikator. Sebaliknya, kalau mendapat umpan
balik negatif, maka komunikasi itu gagal. Sehubungan dengan kegagalan dalam
komunikasi, para ahli komunikasi mengadakan penelitian dan menemukan lima
faktor yang dapat menghambat komunikasi, salah satunya adalah hambatan
pengertian bahasa (semantic factor).
Media penyiaran merupakan organisasi yang menyebarkan
informasi yang berupa produk budaya atau pesan yang memengaruhi dan
mencerminkan budaya dalam masyarakat. Oleh Karena itu, seperti politik atau
ekonomi, media massa khususnya media penyiaran merupakan suatu sistem
tersendiri yang merupakan bagian dari sistem kemasyarakatan yang lebih luas
(Rahardjo, 2002:51).
Studi
komunikasi massa secara umum
membahas dua hal pokok yaitu: Pertama, studi komunikasi massa yang
melihat peran media massa terhadap masyarakat luas beserta institusi-
institusinya. Pandangan ini menggambarkan keterkaitan antara media dengan
berbagai institusi lain seperti institusi politik, ekonomi, pendidikan, agama,
dan sebagainya. Teori-teori yang berkenaan dengan hal ini berupaya menjelaskan
posisi atau kedudukan media massa dalam masyarakat dan terjadinya saling
memengaruhi antara berbagai struktur kemasyarakatan dengan media. Kedua, studi komunikasi massa yang
melihat hubungan antara media dengan audiennya, baik secara kelompok maupun
individual. Teori-teori mengenai hubungan antara media audien terutama
menekankan pada efek-efek individu dan kelompok sebagai hasil interaksi dengan
media. [2]
Pembahasan
1.
Sejarah Dan Sifat Penyiaran Radio
Sejarah media penyiaran dunia dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu
sejarah media penyiaran sebagai penemuan teknologi dan sejarah media penyiaran
sebagai suatu industri.
Sejarah media penyiaran sebagai
penemuan teknologi berawal
dari ditemukannya radio oleh
para ahli teknik di Eropa dan Amerika. Sejarah media penyiaran sebagai suatu
industri di mulai di Amerika. Dengan demikian, mempelajari sejarah media
penyiaran dunia, baik sebagai penemuan teknologi maupun industri nyaris hampir
sama dengan mempelajari sejarah penyiaran di Amerika Serikat. Pada bagian ini, akan dibahas sejarah
penyiaran dunia dan juga sejarah penyiaran di
Indonesia.
Sejarah media penyiaran dunia dimulai ketika ahli fisika
Jerman bernama Heinrich Hertz pada tahun 1887 berhasil mengirim dan menerima
gelombang radio. Upaya Hertz itu kemudian dilanjutkan oleh Guglielmo Marcori
(1874-1937) dari Italia yang sukses mengirimkan sinyal morse-berupa titik dan
garis dari sebuah pemancar kepada suatu alat penerima. Sinyal yang dikirimkan
Marconi itu berhasil menyeberangi Samudra Atlantik pada tahun 1901 degan
menggunakan gelombang elektromagnetik.
Radio
awalnya cenderung diremehkan dan perhatian kepada penemuan baru itu hanya
terpusat sebagai alat tekonologi transmisi. Radio lebih banyak digunakan oleh
militer dan pemerintahan untuk kebutuhan penyampaian informasi dan berita.[3]
Sejarah perkembangan radio di Indonesia dimulai ketika berdirinya
RRI (Radio Republik Indonesia) tepat pada tanggal 11 September 1945
melalui rapat enam utusan radio di rumah Adang Kadarusaman, Jalan Menteng Dalam Jakarta. Pertemuan memutuskan
untuk mendirikan RRI sekaligus memilih Dr. Abdulrahman
Saleh sebagai pemimpin umum RRI. Pertemuan tersebut juga
menghasilkan Piagam Tri Prasetya RRI. Pasang surut perkembangan
penyiaran di Indonesia juga mempengaruhi kegiatan penyiaran
radio itu sendiri. Penghapusan Departemen Penerangan pada era Aburrahman Wahid (GusDur) mengharuskan
RRI berubah menjadi badan publik. Dengan keberadaan UU Penyiaran maka radio
terbagi tiga, yaitu: 1) Lembaga Penyiaran Radio Publik RRI, 2) Lembaga
Penyiaran Swasta, 3) Lembaga Penyiaran Komunitas.
Hingga saat ini sudah banyak siaran radio swasta yang ada di Indonesia,
bahkan radio komunitas lokal berbahasa daerah juga ada.[4]
2. Penyiaran
sebagai Komunikasi Massa
Dalam teori media dan masyarakat massa
misalnya dikatakan bahwa media memiliki sejumlah asumsi untuk membentuk
masyarakat, yakni:
a. Media
massa (tak terkecuali penyiaran) memiliki efek
yang berbahaya sekaligus menular bagi masyarakat. Untuk meminimalisir efek ini di Eropa pada
masa 1920- an, penyiaran dikendalikan oleh pemerintah, walaupun ternyata
kebijakan ini justru berdampak buruk di Jerman dengan digunakannya penyiaran
untuk propaganda Nazi.
b. Media
massa memiliki kekuatan untuk memengaruhi pola pikir rata-rata audienya. Bahkan
pada asumsi berikutnya dalam teori ini dikatakan bahwa ketika pola pikir seseorang sudah terpengaruh oleh media,
maka semakin lama pengaruh tersebut semakin besar.
c. Rata-rata orang yang terpengaruh oleh media, dikarenakan ia mengalami keterputusan
dengan institusi sosial yang sebelumnya justru melindungi dari efek negatif media.
Penggunaan media
sebagai wahana komunikasi sudah dilakukan
oleh manusia sejak tahun 20.000 SM dalam bentuk pahatan di dinding gua atau
asap api sebagai simbol komunikasi. Revolusi media
semakin pesat ketika
pada tahun 1.500
M Johannes Gutenberg
memperkenalkan mesin cetak. Revolusi komunikasi
pada puncaknya menciptakan masyarakat informasi (information society).
Di Indonesia, radio merupakan alat komunikasi penting
sejak negeri ini baru berdiri. Kepemilikan pesawat radio naik dengan pesat,
hingga mencapai setengah juta yang berlisensi pada pertengahan 1950-an. Radio
digunakan secara baik dibidang
pendidikan, terutama pendidikan politik, seperti mempersiapkan para calon
pemilih untuk pemilu pertama pada 1955.
Jelaslah bahwa
penyiaran merupakan wahana komunikasi massa dasar yang telah terbukti
efektivitasnya. Tanpa media
komunikasi dasar, menusia tidak mungkin mendistribusikan satu pesan ke banyak
penerima secara global.
Tanpa perangkat
seperti komuputer, mesin fotocopi, microfilm dan perangkat siar digital lainnya
manusia akan sangat terbatas dalam
menyampaikan dan menerima pesan.
Dengan demikian, media memperluas komunikasi manusia dalam hal : 1) produksi
dan distribusi pesan; dan 2) menerima, menyimpan, dan menggunakan kembali informasi.[5]
3 .
Hasil Wawancara
P : Selamat pagi ibu Rani ? Bu, boleh saya bertanya sedikit
kepada ibu ?
N.S : oh.. boleh boleh, mau bertanya tentang apa nak ?
P : Ibu pernah dengar Radio ?
N.S : Sering, bahkan setiap pagi sambil memasak ibu selalu
dengar radio.
P : Menurut ibu apa sih fungsi dan peran radio itu ?
N.S : Radio berperan sebagai media komunikasi berupa informasi
yang terprogram dalam sehari.
P : Apa yang membuat ibu suka mendengar Radio?
N.S : Karena Radio mempunyai informasi yang dalam sehari
berganti-ganti, misalnya, program semangat pagi berarti informasi nya tentang kesehatan di pagi
hari begitupun selanjutnya.
P : Menurut ibu, apakah ibu setuju bahwasanya Radio itu
sebagai media Komunikasi Massa?
N.S : Sangat setuju,
karena Radio jangkauan nya sangat luas
sampai ke plosok-plosok, misalkan di desa belum
memiliki televisi, mereka bisa mendengarkan informasi-informasi
dari Radio. Mereka juga bisa request
lagu yang ingin mereka dengarkan melalui Radio.
Dan Radio juga bisa di dengarkan saat lagi bekerja,
seperti saya kan sambil masak saya mendengarkan
Radio supaya tidak ketinggalan informasi
terkini.. hehe dan Radio bisa di streaming langsung
dri internet.
P : Oke, terima kasih Ibu atas
waktunya, terimakasih telah
memberi pendapatnya tentang apa yang saya tanyakan,
semoga bermanfaat untuk kita semua, amiin..
Berdasarkan wawancara diatas, Ibu Rani
menjelaskan bahwa Radio adalah media yang sangat efektif untuk berkomunikasi
kepada khalayak luas, karena Radio jangkauan nya sampai ke plosok-plosok
manapun yang tidak bisa di jangkau oleh satelit bahkan Radio sudah ada di handpone
genggam. Radio juga memiliki informasi disetiap program nya dan bisa di
dengarkan pada saat sedang bekerja sekalipun.
Penutup
Kesimpulan
Di Indonesia, radio merupakan alat komunikasi penting sejak
negeri ini baru berdiri. Kepemilikan pesawat radio naik dengan pesat, hingga
mencapai setengah juta yang berlisensi pada pertengahan 1950-an. Radio
digunakan secara baik dibidang
pendidikan, terutama pendidikan politik, seperti mempersiapkan para calon
pemilih untuk pemilu pertama pada 1955.
Jelaslah bahwa
penyiaran merupakan wahana komunikasi massa dasar yang telah terbukti
efektivitasnya. Tanpa media
komunikasi dasar, menusia tidak mungkin mendistribusikan satu pesan ke banyak
penerima secara global.
Radio dapat dikelompokkan sebagai media massa elektronik yang mampu
menguasai ruang, Artinya siaran radio dari suatu media radio yang dapat
diterima dimana saja dalam jangkauan pancarannya atau menguasai ruang, tetapi
siarannya tidak dapat dilihat kembali tidak menguasai waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Djuarsa Sendjaja, Tandiyo Pradekso, Turnomo Rahardjo, 2002, Teori Komunikasi Massa: Media, Efek dan
Audience, modul Teori Komunikasi, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
J.B Wahyudi,
1992, Teknologi Informasi dan Produksi
Cutra Bergerak, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
https://media.neliti.com/media/publications/224249-pemberdayaan-radio-komunitas-sebagai-med.pdf
(21
Januari 2019)
Muhammad Mufid, 2010, Komunikasi &
Regulasi Penyiaran, Jakarta, Kencana.
Komunikasiku, Fungsi Radio Sebagai Media Komunikasi, http://komunikasiku.blogspot.co.id/2015/02/fungsi-radio-sebagai-mediakomunikasi.html
(21 januari 2019).
[1]Muliaty Amin dan Nurul Hikmah Kadir,
“Pengaruh penggunan bahasa daerah terhadap minat dengar radio”, Jurnal
Al-khitabah,(Vol.IV), hlm. 59
Komentar
Posting Komentar